Notification

×

Iklan

Ada 15 Kasus Lokal Omicron, Satgas Sebut Sudah Ada Transmisi Komunitas!

Rabu, 05 Januari 2022 | 09:49 WIB Last Updated 2022-01-05T04:52:28Z
Satgas Penanganan COVID-19 melaporkan kasus transmisi komunitas varian Omicron di Indonesia. (detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - 
Satgas Penanganan COVID-19 melaporkan kasus transmisi komunitas varian Omicron di Indonesia. Meski tingkat fatalitasnya cenderung rendah, ditegaskan bahwa kasus tersebut perlu disorot agar tak mengubah situasi pandemi COVID-19 yang kini diyakini sudah terkendali.

"Sudah ditemukan kaus positif bervarian Omicron akibat transmisi komunitas. Walaupun tergolong tidak banyak serta secara hipotesis varian omicron memiliki case fatality yang tergolong rendah, namun upaya tanggap diperlukan agar kondisi kasus nasional yang sudah cenderung terkontrol akhir-akhir ini dapat lestari," kata juru bicara Satgas Penanganganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/1/2022).

Dalam kesempatan lainnya, Kementerian Kesehatan RI memaparkan Indonesia kini mencatat sebanyak 254 kasus varian Omicron. Sebanyak 239 kasus adalah dari pelaku perjalanan internasional (imported case) dan 15 kasus transmisi lokal.

Pada Selasa (4/1/2022), Kemenkes mencatat penambahan konfirmasi kasus baru Omicron sebanyak 92 kasus.

"Mayoritas (penularan) masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri. Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak adalah batuk (49 persen) dan pilek (27 persen)," ujar juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam siaran pers Kemenkes, Rabu (5/1/2022).

Dengan adanya temuan tersebut, Prof Wiku menegaskan penundaan perjalanan masih luar negeri menjadi langkah penting mencegah penyebaran varian Omicron di Indonesia.

"Untuk itu hal yang dapat dilakukan di antaranya menunda perjalanan ke luar negeri jika tidak dalam kondisi mendesak. Hal ini terutama menekankan kembalinya masyarakat membawa pulang penuyakit dan menularkannya kepada sesama pelaku perjalanan maupun keluarga di rumah," bebernya.

"Setiap tindakan menunda perjalanan ke luar negeri dapat melindungi dan menyelamatkan banyak orang," pungkas Prof Wiku. (Detik)
×
Berita Terbaru Update