Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan RSI

Kota Tebingtinggi Banjir Lagi, Kemana Fungsi Tembok Penahan Air yang Dibangun BPBD?

Rabu, 01 September 2021 | 16:51 WIB Last Updated 2021-09-02T06:07:53Z
Tembok penahan air yang berada di wilayah Kampung Semut, Kota Tebingtinggi, Sumut.
TEBINGTINGGI (Kliik.id) - Tingginya curah hujan mengakibatkan Sungai Padang di kota Tebingtinggi, Sumut, kembali meluap, Rabu (1/9/2021) sekitar pukul 04.00 WIB dan merendam ratusan rumah warga.

Ratusan rumah warga yang terendam banjir tersebar di sejumlah kelurahan, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Padang, Kota Tebingtinggi. Namun banjir yang terparah terdapat di Kelurahan Bandar Utama, Kelurahan Badak Bejuang, dan Kelurahan Sri Padang.

Sedikitnya ada sekitar 300-400 rumah warga yang terendam banjir, dengan ketinggian air mencapai 50-80 sentimeter.

Menurut keterangan salah seorang korban banjir, Agus (45) warga Kelurahan Bandar Utama, banjir mulai menggenangi permukiman rumah warga sejak Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Menurutnya, banjir bukan hanyak kali ini saja, bahkan apa bila curah hujan tinggi air kerap naik dan langsung menggenangi rumah-rumah penduduk.

"Dari hulu Sungai Padang kerap naik dan langsung menggenangi pemukiman rumah warga dan banjir sudah menjadi langganan terutama warga di sekitar yang rumahnya di pinggiran aliran sungai," ujarnya, Rabu (1/9/2021).

Agus menduga banjir disebabkan pendangkalan sungai yang berhulu di Kabupaten Simalungun itu. Serta akibat banyaknya pintu air yang tidak berfungsi. Sehingga, menurut Agus, bila air sungai naik dengan cepat masuk ke perkampungan warga.

Warga berharap Pemerintah Kota Tebingtinggi serius menangani persoalan banjir yang selalu rutin terjadi.

Terkait banjir yang rutin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebingtinggi sendiri sudah membangun tembok penahan air di pesisir Sungai Padang, yang berada di Kampung Semut.

Namun, tembok penahan dengan beberapa pintu air tersebut belum dirasakan manfaatnya. Banjir masih rutin dirasakan warga Kampung Semut.

Alhasil tak sedikit masyarakat menilai proyek yang dikerjakan CV Kali Jeruk senilai Rp 981 juta lebih, bakal berakhir sia-sia.

Terkait tanggul ini, Kepala BPBD Tebingtinggi Wahid Sitorus melalui Kasi Rehabilitasi dan Perencanaan M Hatta, pernah mengatakan pihaknya sudah bersosialisasi dengan warga setempat.

Rencana penambahan tembok penahan banjir pun diklaim Hatta sudah diketahui warga masyarakat.

"Kita sudah komunikasi dengan warga pada 1 Maret 2021 di Gedung Serbaguna Lingkungan 1. Mereka minta; pertama, tembok jangan terlalu tinggi. Kedua, minta dibangunkan tangga dan ketiga, pintu air akan diperbaiki. Kami bilang proyek ini akan including perbaikan pintu air," kata Hatta saat dikonfirmasi di Kantor BPBD Tebingtinggi, Bulan Mei lalu.

Hatta menjelaskan nantinya enam pintu air yang ada di wilayah Kampung Semut akan dipasang alat yang bersistem otomatis. Sehingga mampu mendeteksi ketinggian air. Semua proyek ini, lanjut Hatta, sudah melalui kajian yang mendalam.

"Kami lihat air masuk di tembok-tembok penahan yang ada. Ada sosialisasi kemarin bahwa BPBD akan menambah tinggi dinding penahan. Kalau kita lihat daratan banyak di pinggir sungai (sedimentasi) di kampung semut. Makanya kita tambah dinding penahan," ungkapnya.

Hatta mengatakan tinggi tembok penahan yang dibangun disesuaikan dengan kontur tanah dan ketinggian air yang menggenang terakhir kali di rumah warga, yaitu peristiwa banjir akhir November 2020 lalu.

"Panjangnya 400 meter. Tembok akan menahan air yang meluap, jadi misal tinggi air 1,2 meter kita sesuaikan tanggul jadi 1,3 meter. Kita lakukan timbang air berdasar bekas banjir di rumah-rumah itu," tambahnya.

Hatta menjamin proyek yang dibuat ini efektif menahan banjir yang menghantui warga Kampung Semut setiap musim penghujan. Ia meyakini nilai proyek sesuai taksiran harga satuan yang ditetapkan.

Tak hanya itu, Hatta juga berjanji siap dituntut warga di kemudian hari bila apa yang dilakukan BPBD Tebingtinggi berbeda dengan kenyataannya.

"Udah ada analisa satuan bangunan. Jadi taksiran nilai itu sudah akurat. Tinggi variasi berdasar kontur. Kalau ada apa-apa (banjir) tuntut kami," pungkasnya. (Rls)
×
Berita Terbaru Update