Notification

×

Iklan

Pesan Persatuan dari Imam Besar Istiqlal di Upacara HUT ke-77 RI

Rabu, 17 Agustus 2022 | 09:12 WIB Last Updated 2022-08-17T05:15:25Z
Masjid Istiqlal Jakarta Pusat untuk pertama kalinya menggelar upacara lintas agama dalam rangka memperingati HUT ke-77 RI. Sejumlah tokoh agama dan pesan persatuan disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal. (detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - 
Masjid Istiqlal Jakarta Pusat untuk pertama kalinya menggelar upacara lintas agama dalam rangka memperingati HUT ke-77 RI. Sejumlah tokoh agama dan pesan persatuan disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal.

Pantauan detikcom di lokasi, Rabu (17/8/2022), upacara dimulai pukul 07.11 WIB. Terlihat Imam Besar Nazaruddin Umar bertindak sebagai inspektur upacara. Para tamu undangan nampak mengenakan pakaian kebaya dan batik. Peserta upacara diikuti oleh sejumlah madrasah Istiqlal.

"Dari lubuk hati kita yang paling tulus mari kita panjatkan syukur kepada Allah SWT, karena dengan perkenaannya kita dapat menghadiri upacara disini dalam rangka hari kemerdekaan ke-77. Upacara ini menjadi sangat khusus karena ini merupakan yang pertama upacara lintas agama dalam sejarah bangsa Indonesia, upacara Republik Indonesia dilaksanakan secara lintas agama di salah satu rumah ibadah," kata Nazaruddin Umar dalam amanatnya.

Nazaruddin berharap upacara tersebut menjadi salah satu bentuk toleransi umat beragama di Indonesia. Dia menyebut meski berbeda, namun tetap dalam satu kesatuan Bhineka Tunggal Ika.

"Upacara bersama tokoh lintas agama diharapkan menjadi salah satu kekuatan yang berfungsi filtrasi agama, pemahaman esensi ajaran agama juga sedapat mungkin diperlukan dalam bingkai NKRI ini," katanya.

Selain itu, dalam amanatnya, Nazaruddin menyinggung perihal politik identitas. Dia mengatakan poltik identitas menjadi salah satu tantangan di masa depan menjelang pemilu 2024.

"Tantangan di masa depan bangsa kita di antaranya ialah bagaimana mengeliminir politik identitas pertama yang menghadapi Pemilu 2024, pesta demokrasi tidak bisa dihalangi karena merupakan roh sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," katanya.

"Namun demikian sila ke-4 ini tidak boleh mereduksi sila ketiga persatuan Indonesia," imbuhnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update