Notification

×

Iklan

Banner Iklan DPRD Tebing Tinggi

Kemenkes: Mudik Lebaran Momen Penentu Indonesia Masuk Fase Endemi COVID-19

Jumat, 08 April 2022 | 15:03 WIB Last Updated 2022-04-08T11:06:10Z
Terkendalinya kasus COVID-19 di Indonesia, membuat pemerintah mengizinkan warga untuk melakukan mudik Lebaran 2022. (detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - 
Terkendalinya kasus COVID-19 di Indonesia, membuat pemerintah mengizinkan warga untuk melakukan mudik Lebaran 2022. Namun, momen mudik kali ini akan menjadi penentu status pandemi COVID-19 di Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan, mudik Lebaran 2022 akan menjadi salah satu ujian yang akan mengarahkan situasi pandemi menjadi endemi. Ia mengingatkan, ada beberapa faktor yang bisa mengubah status pandemi Indonesia menjadi endemi.

"Mudik menjadi salah satu ujian kita karena kalau kita mau menuju posisi yang kita sebut sebagai endemi, harus konsisten. Penularannya tetap rendah, angka positif tetap rendah, kasus juga lebih sedikit, kasus kematian juga rendah," kata Nadia dalam diskusi yang disiarkan Setjen DPR RI, Jumat (8/4/2022).

Seperti yang diketahui, warga yang mudik dengan sudah divaksinasi booster COVID-19 dan tidak perlu lagi menunjukkan hasil PCR ataupun antigen.

Sementara bagi yang baru melakukan vaksin dua kali wajib menunjukkan test antigen dan yang baru melakukan satu kali vaksin wajib menunjukkan tes PCR.

Persyaratan tersebut merupakan upaya pengendalian dan pencegahan lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia karena mobilitas tinggi akibat mudik Lebaran, kemungkinan besar bakal diiringi dengan kenaikan kasus.

"Kita tahu, kecenderungan peningkatan kasus selalu terjadi pada mobilitas yang tinggi," papar Nadia.

Nadia memaparkan agar Indonesia bisa menuju endemi setelah Ramadhan dan mudik Lebaran 2022, maka diperlukan proteksi yang lebih yakni dengan menggalakkan program vaksinasi booster (dosis ketiga).

"Kemarin kita sudah bebas dosis kedua full dengan tidak perlu PCR dan antigen karena jumlah orang yang mobilitas itu cukup dengan proteksi dua dosis. Tapi akan ada 80 juta yang bermobilisasi (perkiraan pemudik), maka kita harus menaikkan proteksinya. Makanya vaksin penguat (vaksinasi booster) kami dorong kedepannya," tegasnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update