Notification

×

Iklan

Sebut Edy Rahmayadi 'Gubernur Jahanam', Pelatih Biliar Coky Akan Dilaporkan ke Polisi

Jumat, 07 Januari 2022 | 10:21 WIB Last Updated 2022-01-07T10:25:34Z
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.
MEDAN (Kliik.id) - 
Perseteruan antara Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi dengan pelatih biliar Sumut Coky Aritonang, semakin panjang.

Kabarnya, Edy Rahmayadi berencana melaporkan balik Coky Aritonang ke Polda Sumut karena menyebut Edy sebagai "Gubernur Jahanam".

Rencana pelaporan itu dibenarkan kuasa hukum Edy, Junirwan Kurnia. Menurutnya, pernyataan Coky soal Edy "Gubernur Jahanam" yang telah beredar di publik lewat pemberitaan media itu tidak pantas. Sebab, Edy Rahmayadi merupakan kepala daerah.

"Iya (soal pernyataan jahanam). Laporan balik soal penistaan, bahasa di undang-undangnya begitu," ujar Junirwan saat dikonfirmasi, Jumat (7/1/2022).

Diketahui, Coky melalui Ketua Tim Kuasa Hukumnya, Gumilar Aditya Nugroho, melaporkan Edy Rahmayadi ke Polda Sumut, Senin (3/1/2022) tentang Pidana UU Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 310, 315 KUHP tentang perasaan tidak menyenangkan.

Junirwan menilai laporan Coky ke Polda Sumut atas Edy Rahmayadi dinilai ditunggangi. Ia menyebutkan, seharusnya publik dapat berpikir jernih dan berupaya memahami subtansi dari permasalahan tersebut.

"Kami pikir seharusnya publik dapat berpikir jernih dan berupaya memahami subtansi permasalahan tersebut. Bagi pihak-pihak tertentu tolong tahan dulu syahwat politik dan ego terhadap penghakiman kepada klien kami," katanya.

Ia menjelaskan, Edy Rahmayadi saat memberikan motivasi kepada para atlet saat peristiwa itu bukan hanya sebagai Gubernur Sumut, melainkan juga sebagai pembina para atlet dan pelatih sesuai dengan perintah UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

"Beliau (Edy) berdiri disitu berbicara pengarahan untuk atlet Sumut. Bukan semata-mata karena hal lain. Atlet dan pelatih yang datang juga karena senang mendapat bonus," ujarnya.

Junirwan meminta agar publik tidak melihat pada konteks tidak tepuk tangannya secara harafiah. Akan tetapi harus melihat pada hakikatnya secara keseluruhan. Menurutnya, ketika seorang pembina memberikan nasehat, maka sudah sepatutnya didengar.

Saat Coky dipanggil ke depan, ia diajak dialog dengan diberi mikrofon. Dalam hal itu, lanjut Junirwan, posisi Edy Rahmayadi adalah benar pembina para atlet.

"Coky harusnya paham sebab dia dipanggil ke depan karena apa. Makanya klien kita heran kenapa akhirnya berakhir seperti ini. Saat dipanggil ke depan. Telinganya itu dipegang lalu dia menghindar dan dia turun langsung. Jadi tidak benar itu dijewer. Jadi dipegang telinga dan pundaknya itu tanda kasih sayang sebagai pembina," jelasnya.

"Bonus dia juga dikasih kok. Tiap bulan juga dapat gaji Rp 6 juta. Jadi jangan bilang tidak ada kontribusi Edy di olahraga. Justru dengan laporan dia itu kita yang tersinggung. Seharusnya kan saling menyayangi," pungkasnya.

Sebelumnya, saat diwawancarai, Coky Aritonang yang ditanya terkait pengusiran dan jeweran telinga yang dialaminya, ia menyatakan bahwa Edy "Gubernur Jahanam". (Rls)
×
Berita Terbaru Update