Notification

×

Iklan

Banner Iklan DPRD Tebing Tinggi

Cerita Megawati Ancam Pecat Kader Interupsi SBY di Sidang Tahunan

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:37 WIB Last Updated 2022-01-23T15:22:19Z
Sekretaris Kabinet Pramono Anung. (detikcom)

JAKARTA (Kliik.id) - 
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berulang tahun yang ke-75 hari ini. Sejumlah tokoh menyampaikan kesan dan sosok Megawati, salah satunya Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Eks Sekjen PDIP ini bercerita sikap tegas Megawati terutama terkait konstitusi. Dia mengatakan Megawati bahkan mengancam pemecatan terhadap kader di parlemen yang interupsi ketika sidang tahunan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Jadi seperti yang saya sampaikan di dalam maupun di luar kekuasaan Bu Mega selalu mengajarkan konstitusi. Bahkan pernah kejadian di tahun 2005 atau 2006 waktu itu teman-teman akan melakukan interupsi pada sidang 17 Agustus pada waktu Presiden menyampaikan nota keuangan. Ibu marah sekali dan memberikan perintah pada waktu itu, saya masih Sekjen, siapapun yang melakukan interupsi kepada Presiden waktu itu Pak SBY saya akan pecat saat itu juga," kata Pramono dalam acara diskusi HUT Megawati secara virtual, Minggu (23/1/2022).

Pramono mengatakan hal itu dilakukan Megawati semata untuk menjaga marwah konstitusi. Dia menyampaikan pesan Megawati yang boleh saja setiap orang berbeda pandangan, tapi harus tetap menghormati konstitusi.

"Kenapa itu dilakukan karena beliau menjaga marwah konstitusi. Kita boleh berbeda pendapat kita boleh berseberangan tapi kita patuh taat tunduk pada konstitusi, itu menjadi hal yang selalu diajarkan Bu Mega," ujarnya.

"Termasuk saat ini, selain memberikan dukungan penuh kepada pemerintah tentunya dalam hal-hal tertentu kalau ada yang dianggap kebijakan tidak bener kita juga harus bisa memberikan kritik dan memberikan alternatif untuk itu secara konstitusi," lanjut Megawati.

Pramono mengatakan sikap tegas itu juga dirasakan sekjen lainnya Tjahjo Kumolo hingga Hasto Kristiyanto. Kesan Pramono terhadap Megawati yakni gaya politik yang tenang dan berjangka panjang.

"Saya yakin Pak Tjahjo dan Mas Hasto diajarkan hal yang sama. Politik Ibu itu politik tenang, jangka panjang. Tidak grudak-gruduk tidak gopoh-gopoh, jadi apapun yang sudah diputuskan ya akan dijalankan, bagi kita yang menjadi Sekjen pembantu beliau itu gampang untuk bisa menangkap apa yang menjadi keinginan Ibu," ujarnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update