![]() |
Foto screenshot Ali Kalora (detikcom) |
JAKARTA (Kliik.id) - Pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora ditembak mati oleh Satgas Madago Raya. Ali Kalora tercatat memiliki jejak kejahatan terorisme yang sadis.
Ali Kalora sebelum tewas ditembak bersama anak buahnya masuk dalam enam DPO Satgas Madago Raya. Ali Kalora tewas tertembak bersama anak buahnya Jaka Ramadhan.
"Ya, ada 6 DPO. Tertembak 2, sisa 4 orang ini orang Bima semuanya, simpatisan yang terpengaruh konflik Poso zaman dahulu, termasuk kelompok Santoso dulu," ujar Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi, Minggu (19/9/2021).
Ali Kalora tewas dalam baku tembak dengan Satgas Madago Raya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parimo, Sulteng. Peristiwa itu terjadi pada petang kemarin.
Sosoknya cukup misterius. Berdasarkan penelusuran detikcom, belum ada sumber tepercaya yang mencantumkan tanggal lahir pria ini.
Namun yang jelas, dia lahir di Kalora.
Nama 'Kalora' ternyata diambilkan dari nama desa tempat dia lahir. Nama aslinya adalah Ali Ahmad.
Ali Kalora sudah buron (DPO) sejak 27 Desember 2012. Namanya sebagai pemimpin komplotan MIT mencuat lantaran pemimpin sebelumnya, yakni Santoso alias Abu Wardah, tewas ditembak aparat.
Penerus Santoso, Sempat Diremehkan
Sebelumnya, MIT dipimpin oleh Santoso. Sebagaimana diberitakan detikcom, Santoso tewas pada 18 Juli 2016. Dia ditembak anggota Satgas Tinombala dari unsur Batalyon Infanteri 515 Kostrad, Jember.
Usai tewasnya Santoso, masih ada sosok Basri bin Baco Sampe alias Bagong yang menjadi tangan kanan Santoso. Basri bisa menjadi penerus Santoso.
Beruntung, Satgas Tinombala berhasil menangkapnya hidup-hidup, di Sektor Satu, Poso, Pesisir Selatan, 14 September 2016.
Maka sejak saat itu, Ali Kalora menjadi pemimpin MIT. Ali Kalora sempat dianggap enteng oleh kepolisian.
"Ali Kalora jauh di bawah kelasnya Santoso dan Basri," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di PTIK, Jalan Tirtayasa, Jakarta, 14 September 2016 silam. (Detik)