Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan RSI

Data Covid-19 Sumut Beda dengan Pusat, Airlangga: Presiden Minta Selesaikan!

Kamis, 09 September 2021 | 15:50 WIB Last Updated 2021-09-09T15:54:12Z
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto
MEDAN (Kliik.id) - Menteri Koordinator Perekonomian, yang juga Koordinator Penanganan Covid-19 Luar Jawa-Bali, Airlangga Hartarto, menyoroti lambatnya update data Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Dalam data 21 hari terakhir yang diterima Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan, data Covid Sumut tidak sinkron dengan kondisi real (kenyataan) di lapangan.

Ada 22,8% data yang belum diperbaharui. Sehingga masih terdapat flag (bertanda merah) dari beberapa beberapa indikator penanganan Covid, yang kemudian menentukan penetapan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk kabupaten/kota di Sumut.

"Keterlambatan dan ketidaksinkronan data Covid dalam 21 terakhir, agar segera dibereskan (cleansing) agar tidak menganggu upaya penanganan dan penetapan level PPKM," ujar Airlangga Hartarto pada rapat evaluasi PPKM di Provinsi Sumut, di Rumah Dinas Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman, Medan, Kamis (9/9/2021).

Namun, kata Airlangga, yang menjadi catatan, masih ada kasus yang lebih dari 21 hari, yang tentunya itu perlu di-cleansing datanya, apakah sembuh, apakah meninggal, sehingga itu yang membuat Sumut berada dalam posisi kedua secara nasional.

Bahkan Presiden RI, Joko Widodo, kata Airlangga, turut memberi perhatian. Presiden, katanya, meminta supaya ketidaksesuaian data itu dibereskan.

"Nah khusus hari ini, memang bapak presiden meminta supaya angka yang menggantung ini segera diselesaikan, sehingga tentunya nanti dalam penanganan akan menjadi lebih baik," ujarnya.

Tidak sinkronnya data Covid-19 di Sumut itu, antara lain dari Mandailing Natal, yang melaporkan 71 jumlah kematian pasien Covid, yang berujung pada penetapan Madina ke PPKM Level 4.

Sebelumnya, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, menegaskan, data itu tidak benar setelah dicek. Artinya ada ketidaksinkronan data, yang diakibatkan kesalahan menginput data.

"Karena saya cek di rumah sakit hanya 4 orang yang sakit. Terus datanya 71 orang meninggal. Setelah saya cek nama-namanya, banyak yang tak meninggal di situ," ujar Edy kepada wartawan, Rabu (8/9/2021). (Rls)
×
Berita Terbaru Update