Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan RSI

AirAsia Terjun ke Taksi Online, Pengamat: Wajar, Bisnis Intinya Rontok

Minggu, 29 Agustus 2021 | 13:18 WIB Last Updated 2021-08-29T07:01:57Z
Foto ilustrasi
JAKARTA (Kliik.id) - Keputusan mengejutkan dibuat oleh AirAsia, maskapai penerbangan yang berbasis di Malaysia itu kini meluncurkan bisnis baru di layanan ride hailing alias transportasi online.

Peluncuran layanan baru bernama AirAsia Ride ini terjadi di tengah lesunya industri penerbangan imbas dari pandemi COVID-19.  

Menurut Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas, keputusan AirAsia terjun ke bisnis maskapai dinilai sebagai keputusan yang murni bisnis.

Dia mengatakan core atau inti bisnis AirAsia sebagai maskapai penerbangan sedang rontok, maka bisnis lain dalam bentuk apapun yang bisa memberikan keuntungan akan dijajal.

"Saya kira itu soal pertimbangan praktis seorang businessman saja ya, wajar. Kita ketahui ketika core bisnisnya rontok, bisnis maskapainya itu rontok, maka bisnis apa saja akan dijalani, yang penting menguntungkan," ungkap Darmaningtyas kepada detikcom, Minggu (29/8/2021).

Apalagi, menurut Darmaningtyas pada dasarnya bisnis maskapai butuh investasi besar, dengan hantaman pandemi pun bisnis ini jadi tidak menjanjikan.

Maka dari itu, dia menilai AirAsia mencari jalan realistis untuk bertahan dan menggarap bisnis ride hailing. Bisnis ini, menurut Darmaningtyas demand-nya lebih jelas, tersedia, dan stabil dibandingkan bisnis penerbangan.

Maksudnya, permintaan transportasi online lebih banyak daripada permintaan untuk menggunakan pesawat terbang.

"Bisnis penerbangan itu investasinya besar sekali dan rontok selama pandemi. Mereka ini cari yang realistis. Jadi selama pandemi belum ada tanda-tanda berakhir, lebih baik garap bisnis yang riil saja," kata Darmaningtyas.

"Ya seperti ojol atau taksl ini kan pasti ada demand-nya," pungkasnya.

Tak berbeda, Pengamat Transportasi MTI Djoko Setijowarno menyatakan terjunnya AirAsia ke bisnis ride hailing adalah imbas dari lesunya bisnis penerbangan. Permintaan penerbangan menurutnya anjlok di masa pandemi.

Dia mengatakan di waktu normal saja, 54% penumpang pesawat tidak dengan biaya sendiri. Dari jumlah itu kebanyakan adalah untuk perjalanan dinas, sementara kenyataannya saat ini perjalanan dinas dari pemerintah hingga BUMN mulai direm.

"Di waktu normal saja, 54% penumpang itu dibayarin. Mereka adalah penumpang perjalanan dinas, baik PNS, Pemda, atau BUMN. Lah sekarang kan dikurangi, direm perjalanan dinasnya. Ada anggarannya juga dipotong. Jadi ya berkurang yang mau naik pesawat," ungkap Djoko.

Selain perjalanan dinas, paling banyak penumpang pesawat juga adalah pelancong. Tapi saat ini tak bisa wira-wiri di tengah pandemi.

"Sisanya kan wisatawan, pariwisata kita aja belum dibuka penuh, orang mau pergi di tengah pandemi juga takut," katanya.

Nah karena penumpang sangat minim, Djoko menilai AirAsia mencari bisnis baru. Ride hailing menurutnya cukup menjanjikan, tinggal bagaimana AirAsia bisa kuat-kuatan promosi saja.

"Ya kalau mau dibandingkan maskapai mendingan ride hailing ini lah, dalam sisi penumpang jelas lebih banyak. Bakar uang pasti kan, tinggal gimana kuat-kuatan saja promosinya," kata Djoko.

Sebagai catatan tambahan, Djoko mengatakan ada baiknya AirAsia lebih fokus mengisi ceruk pasar pengiriman barang.

"Bagusnya lagi sih fokus ke kirim barang, di Indonesia saja meningkat pesat," katanya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update