Notification

×

Seminar Peninjauan Hari Jadi Kota Tebingtinggi 1 Juli, Ini Sejarahnya

Selasa, 29 Juni 2021 | 18:06 WIB Last Updated 2021-06-29T14:18:40Z
Seminar Sehari Peninjauan Hari Jadi Kota Tebingtinggi
TEBINGTINGGI (Kliik.id) - Pemko Tebingtinggi menggelar Seminar Sehari Peninjauan Hari Jadi Kota Tebingtinggi di Balai Kartini Baru, Selasa (29/6/2021).

Kegiatan ini dilakukan untuk menyelidiki lebih dalam tentang keabsahan Hari Jadi Kota Tebingtinggi yang diperingati setiap tanggal 1 Juli.

Seminar ini menghadirkan Tim Ahli yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya USU dan UNIMED, Pemangku Adat Kerajaan Negeri Padang Djuanda, Perwakilan Partuha Maujana Simalungun H. Nikmat Saragih, Zuriat Datuk Bandur Kajum M. Rizki Jamil, Zuriat Tebing Pangeran Muhammad Muhar, Tokoh Masyarakat Peduli Sejarah Dr. Abdul Khalik, serta pegiat-pegiat sejarah lainnya di Kota Tebingtinggi.

Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan, menyampaikan rasa terima kasih kepada Universitas Sumatera Utara (USU) dan UNIMED serta para Tetua Adat dan pegiat sejarah di Kota Tebingtinggi karena ikut ambil bagian dalam membahas Hari Jadi Kota Tebingtinggi.

Hari jadi Kota Tebingtinggi yang diperingati setiap 1 Juli selalu menjadi perhatian, yang mana itu adalah Peresmian dari Gementee (Bahasa Belanda "Wilayah") oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

"Kita merasa terhenyuk setiap tanggal 1 Juli kita memperingati Hari Jadi Kota Tebingtinggi, yang identik dengan Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda. Karena pada saat itu (1 Juli) adalah Peresmian Gemeente Kota Tebingtinggi oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Oleh sebab itu, hari ini kita membawa Peta Gemeente yang berasal dari Leiden (Perpustakaan Leiden, Belanda) yang dibawa oleh Polda Sumut yang kebetulan sedang menyelesaikan permasalahan Heritage Kota Medan. Kita patut berterima kasih kepada Polda Sumut karena membawakan arsip yang sangat penting bagi Kota Tebingtinggi ini," ujar Umar.

Peta Gemeente ini merupakan peta tahun 1918. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Tebingtinggi sudah ada dan sudah memiliki tata ruang.

"Inilah yang menjadi bukti bahwa Kota Tebingtinggi memang sudah ada sebelum Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda datang," kata Umar.

Selain itu, lanjut Umar, ditemukan juga situs sejarah seperti kuburan di belakang Mesjid Raya Tebingtinggi (sekarang sudah dipindahkan ke TPU Kelurahan Durian) yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1808.

"Hal ini juga membuktikan Kota Tebingtinggi sudah terdapat kehidupan di zaman yang lalu, jauh sebelum 1917," ucapnya.

Umar berharap melalui seminar ini, dapat memberikan hasil yang sesuai dengan data dan fakta yang nantinya bakal menjadi warisan sejarah untuk generasi yang akan datang.

"Jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena sejarah-lah yang akan kita tinggalkan kepada generasi yang akan datang agar tidak salah dan dapat membentuk serta memelihara karakter (diri) sebagai karakter pejuang, bukan sebagai karakter yang dijajah," harapnya.

"Kita bukan mencari kesalahan, tetapi untuk mencari suatu kebenaran. Dan tentunya kebenaran itu memang ada dan dapat dibuktikan secara ilmiah dengan bukti-bukti dan situs-situs sejarah yang sesuai dengan data primer dan data sekunder," tutup Umar.

Sebelumnya, Pemko Tebingtinggi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tebingtinggi menandatangani perjanjian kerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya USU yang diikuti oleh Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan dan lainnya. (Rls)
×
Berita Terbaru Update