Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan Lekkers

Beda Gaya Berpolitik Jokowi dan Bobby Nasution

Rabu, 28 April 2021 | 15:23 WIB Last Updated 2021-04-28T08:59:34Z
Jokowi dan Bobby (Foto: detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - Wali Kota Medan Bobby Nasution tengah jadi buah bibir. Bobby jadi pembicaraan usai saling serang dengan anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Romo HR Muhammad Syafi'i.

Saling sindir di antara keduanya itu dilatarbelakangi pemecatan Kepala Dinas Kesehatan Medan Edwin Effendi. Romo Syafi'i menuding Bobby berbohong soal pencopotan Edwin.

"Ternyata Bobby sudah ketularan kebiasaan berbohong di awal masa jabatannya terkait dengan pencopotan Kadis Kesehatan Medan," tulis Romo Syafi'i lewat akun Instagram @romo.syafii.

Tak terima, Bobby pun balas menyerang politikus partai pengusungnya itu. Menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu justru mengungkap bahwa Edwin merupakan besan Romo Syafi'i.

"Saya tau pak KADIS KESEHATAN yg saya BERHENTIKAN merupakan BESAN dari bapak ROMO, tapi ini sudah ada dasarnya dari INSPEKTORAT KOTA MEDAN," balas Bobby dengan akun resminya @bobbynst.

Gaya Bobby berpolitik ini berbeda dengan mertuanya, Jokowi. Sementara Bobby langsung mengkonfrontasi lawannya, Jokowi justru dikenal lebih suka memilih diam saat diserang lawan politiknya.

Sikapnya yang lebih memilih diam itu bahkan diakui Jokowi secara pribadi. Pada masa pertarungan Pilpres 2019, Jokowi mengaku memilih sabar dan diam meski kerap mendapati berbagai penghinaan, fitnah, makian, bahkan direndahkan selama lebih dari 4 tahun memimpin.

"Saya sebetulnya sudah diam 4,5 tahun, difitnah-fitnah saya diam, dihujat saya diam," kata Jokowi kala itu.

Tak hanya itu, Jokowi juga dikenal suka merangkul lawan politiknya. Hal itu terbukti saat Jokowi merangkul Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, yang menjadi rivalnya di Pilpres 2019.

Prabowo bahkan diberi kursi Menteri Pertahanan. Sedangkan Sandiaga didapuknya menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Partai Gerindra pun sah menjadi koalisi setelah lebih dari 4 tahun menjadi oposisi.

Momen rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo sendiri sebenarnya ditandai saat keduanya bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus. Pertemuan keduanya dilakukan usai Jokowi ditetapkan sebagai capres terpilih Pilpres 2019.

Tak hanya merangkul Prabowo dan Sandiaga, Jokowi pun merangkul duo eks pimpinan DPR, Fadli Zon dan Fahri Hamzah, yang kerap melontarkan kritik terhadapnya.

Jokowi merangkul keduanya dengan menganugerahi Bintang Mahaputera Naraya. Sikap merangkul sang lawan ini sebenarnya sudah ditunjukkan Jokowi usai Pilpres 2014.

Saat itu, Jokowi bahkan menemui Prabowo di rumah Ketua Umum Partai Gerindra yang juga menjadi rivalnya itu. Dua tahun kemudian, mereka bahkan berkuda bersama di Hambalang. Momen ini pun menandai momen rekonsiliasi keduanya usai Pilpres 2014.

Di awal kepemimpinannya menjadi presiden kala itu, Jokowi juga merangkul partai-partai oposisinya. Dua parpol oposisi yang berbalik arah menjadi koalisi Jokowi saat itu adalah Golkar dan PAN.

Bahkan jauh sebelumnya saat masih bertarung di Solo, Jokowi pun sudah dikenal suka merangkul lawan politiknya. Kala itu, Jokowi merangkul PKS, yang pada Pilwalkot Solo 2005 menjadi lawan politiknya.

Pada Pilwalkot Solo tahun 2010, PKS justru mengusung Jokowi dan ikut mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Surakarta.

Jokowi pun dikenal akan gaya komunikasinya. Kala memimpin Solo, Jokowi berhasil memindahkan PKL di sana tanpa kekerasan. (Detik)
×
Berita Terbaru Update