Notification

×

Iklan

Iklan

Melihat dari Dekat Pusaka Bung Karno di Blitar, Kiai Sekar Jagad dan Gong Kiai Djimat

Sabtu, 20 Februari 2021 | 12:52 WIB Last Updated 2021-02-20T05:52:05Z
Keris di Perpusnas Bung Karno di Blitar/ Foto: detik.com
BLITAR (Kliik.id) - Perpustakaan Nasional Bung Karno (Perpusnas BK) di Blitar banyak menyimpan sejarah. Ada beberapa benda yang menarik perhatian pengunjung. Di antaranya adalah keris Kiai Sekar Jagad dan Gong Kiai Djimat.

Kedua benda ini disebut sebagai pusaka milik Bung Karno. Pusaka ini dipajang di lantai satu Perpusnas BK. Tepatnya di ruang memorabilia. Untuk Gong Kiai Djimat, disimpann di pojok kanan ruangan. Sedangkan keris berwarna kuning keemasan ini dipajang dalam kotak kaca persegi panjang setinggi 2 meter. Bagian atas kotak, ditutup kayu cukup tebal berbentuk segi empat.

Dari deskripsi di katalog digital Perpusnas BK, senjata yang berupa keris "Kiai Sekar Jagad" ini merupakan benda pusaka Bung Karno yang biasa digunakan sebagai pegangan disaat kunjungan kedinasan/lawatan ke dalam dan ke luar negeri.

Berdasarkan deskripsi spesifikasi teknis pedang kecil ini memiliki berat 309 gram, ukuran wilah dan panjang 29,9 cm. Bagan wilah, tangguh (Pajajaran), dhapur (g), pamor (ghajih), luk (lurus), pasikotan (luwes).

Kemudian informasi lain jenis logam besi walulin, bagian rangka ukiran (Gagang) berasal dari perak bakar, mendak dari perak bakar, tidak memakai selut, bahan warangka dari perak bakar, tidak memakai gandar, pendok dari bakar dan motif lung-lungan.

"Pusaka ini merupakan sumbangan Dr HM Hoezein Hardjowijoto, Jakarta. Dihibahkan ke sini pada 27 September 2009 lalu," jelas Pustakawan Ahli Muda Perpusnas BK, Hendriyanto kepada wartawan, Sabtu (20/2/2021).

Hendri menambahkan, keris ini aslinya berbahan dasar perak. Namun di era Orde Baru, semua yang berbau perak dihilangkan dan disepuh dengan emas. Begitu juga dengan Keris Sekar Jagad ini yang kemudian disepuh emas oleh kolektor Hoezein Hardjowijoto sebelum dihibahkan ke Perpusnas BK.

Sedangkan Gong Kyai Djimat, merupakan gong laras slendro nada S. Diameternya 91 cm dengan berat 33 kg. Bahan dasarnya perunggu hitam dibuat pada tahun 1920. Gong Kiai Djimat memiliki gaya atau gagrak Solo.

Sampai saat ini kondisi suaranya masih bagus atau wuluh, ombak tiga istilah untuk gamelan yang masih berbunyi nyaring dan getarannya bergelombang. Gong inilah yang selalu digunakan untuk mengiringi acara pagelaran wayang kulit, pada saat almarhum Presiden Soekarno ke Blitar (1950 - 1966).

"Gong ini juga hibah dari Pak Hoezein. Dulu pernah dimiliki keluarga Bung Karno di Blitar, yakni Bu Wardoyo di Istana Gebang," tambahnya.

Seperti juga pusaka di tanah Jawa, kedua pusaka ini rutin dijamasi atau dimandikan setiap bulan Suro. Perpusnas BK mengizinkan siapapun yang "mampu" untuk menggelar jamasan bagi kedua pusaka BK tersebut.

Perpusnas BK menilai, jamasan ini adalah termasuk peristiwa budaya benda pusaka. Manusia dalam mengembangkan akalnya itu menelurkan atau mendapatkan konsep dan ide-ide yang diterjemahkan dan direalisasikan dalam bentuk benda-benda fisik atau ritual.

Diharapkan kegiatan ini dapat memperkokoh dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Ritual-ritual ini perlu diadakan terus menerus agar budaya Indonesia tidak punah dan rusak sehingga Indonesia tidak kehilangan jati iri.

"Dan jamasan ini merupakan produk budaya. Namun jangan hanya material gong dan keris saja yang perlu dijamasi. Namun juga ide-ide dan pikiran Bung Karno juga perlu dijamasi untuk digunakan pada masa yang akan datang," pungkasnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update