Notification

×

Iklan

Banner Iklan DPRD Tebing Tinggi

Pertama di Dunia, Peneliti Masukkan COVID-19 ke Manusia! Hasilnya Diungkap

Sabtu, 02 April 2022 | 08:18 WIB Last Updated 2022-04-02T05:20:56Z
Foto ilustrasi
JAKARTA (Kliik.id) - 
Uji coba pertama di dunia, peneliti sengaja memasukkan COVID-19 pada sukarelawan. Riset ini dilakukan demi melihat bagaimana efek seseorang saat terinfeksi.

Belakangan terungkap, penularan COVID-19 dari seseorang yang terpapar tidak bergantung pada gejalanya. Artinya, pasien bergejala COVID-19 ringan maupun berat tetap memiliki kemungkinan besar menularkan penyakit kepada orang sehat.

Temuan ini sekaligus menggarisbawahi penularan COVID-19 sangat sulit dicegah, seperti yang belakangan diperingatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat kasus COVID-19 kembali meningkat.

Proyek penelitian yang dijalankan oleh Open Orphan (ORPH.L) dengan Imperial College, London, menunjukkan di antara 18 peserta yang tertular COVID-19, tingkat keparahan gejala, atau apakah mereka mengembangkan gejala sama sekali, tidak ada hubungannya dengan viral load atau jumlah virus di saluran udara mereka.

Dikutip dari Reuters, banyaknya jumlah virus memiliki peran besar untuk menyebarkan penularan, diukur dengan dua metode yang dikenal sebagai focus-forming assay (FFA) dan kuantitatif polymerase chain reaction (qPCR).

"Tidak ada korelasi antara jumlah pelepasan virus dengan qPCR atau FFA dan skor gejala," kata para peneliti dalam makalah yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah Nature Medicine.

Uji coba Imperial sengaja melakukan eksperimen menginfeksi virus 36 orang dewasa muda yang sehat tanpa riwayat infeksi atau vaksinasi dengan jenis virus SARS-CoV-2 asli dan memantau mereka dalam aturan karantina.

Lantaran dua sukarelawan ternyata memiliki antibodi terhadap virus, mereka dikeluarkan dari analisis. Sedikit lebih dari setengahnya tertular virus.

"Tidak ada efek samping serius yang terjadi, dan model studi semacam ini pada manusia terbukti aman dan dapat ditoleransi dengan baik pada orang dewasa muda yang sehat," kata tim peneliti awal tahun ini. (Detik)
×
Berita Terbaru Update