Notification

×

Iklan

Iklan

TB Hasanuddin: Operasi Deradikalisasi Gagal, Anggarannya Triliunan Rupiah!

Kamis, 01 April 2021 | 10:19 WIB Last Updated 2021-04-01T03:20:14Z
TB Hasanuddin (Foto: detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin menilai program deradikalisasi di Indonesia gagal. Sebab, paham radikalisme dan ancaman terorisme di Indonesia masih menyebar dengan masif.

TB Hasanuddin menyinggung peristiwa penyerangan teroris dalam satu pekan terakhir ini. Yakni aksi bom bunuh di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan perempuan bersenjata di Mabes Polri.

"Saya sepakat operasi deradikalisasi di Indonesia itu gagal. Padahal, saya catat anggaran deradikalisasi itu mencapai triliunan rupiah," kata Hasanuddin, dalam keterangannya, Kamis (1/4/2021).

TB Hasanuddin menilai salah satu penyebab kegagalan operasi deradikalisasi itu yakni metode dan teknik yang dilakukan tersebar di Kementerian dan lembaga bahkan di beberapa organisasi kemasyarakatan. Sehingga, kata dia, deradikalisasi yang dilakukan tidak terarah dan kerap terjadi duplikasi.

"Kita harus rombak cara dan teknik deradikalisasi. Jangan lagi memposisikan seperti menggurui dengan mengatakan kalian yang radikal dan kami yang benar. Kita harus bisa masuk di antara mereka, bergaul dengan mereka dan bicara dari hati ke hati," ujarnya.

Hasanuddin juga mengungkapkan rasa keprihatinannya lantaran penyebar paham radikalisme kini menyasar kaum milenial yang masih dalam proses pencarian jati diri. Kaum milenial, menurutnya menjadi korban kampanye hitam segelintir orang demi kepentingan politik praktis.

"Ironis, banyak kaum milenial yang terpengaruh dengan provokator dahsyat yang mengatasnamakan agama. Menggerakkan kaum muda menjadi pengantin, menjadi bomber dengan janji surga. Sementara para provokator duduk manis menikmati kehidupan dunia. Kenapa tidak mereka saja yang duluan memberi contoh masuk surga?" jelasnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin tidak sepakat jika terorisme beraksi secara lone wolf. Istilah itu disebutnya kurang tepat, karena teroris tidak tumbuh dengan sendirinya secara otomatis.

"Dia akan tumbuh di tempat yang situasinya mendukung, berkembang karena komunikasi sosial yang khusus dengan orang-orang tertentu. Dia tumbuh karena ada yang membina bahkan dia punya idola sendiri. Bahwa dia bergerak sendiri (lone) ya ini kebutuhan taktis saja," jelasnya.

Meski demikian, TB Hasanuddin mengapresiasi kinerja Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) terutama Densus 88 yang telah bekerja optimal.

"Tapi mengatasi masalah teroris tidak bisa hanya segelintir orang yang bekerja. Pemberantasan paham radikalisme dan terorisme harus menjadi program nasional dan melibatkan seluruh komponen bangsa," tuturnya. (Detik)
×
Berita Terbaru Update