Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan Lekkers

PDIP Sumut: Kedaulatan Pangan, Bukti Nyata Kita Bertanah Air

Jumat, 26 Maret 2021 | 10:42 WIB Last Updated 2021-03-26T05:55:12Z
Djarot Saiful Hidayat
MEDAN (Kliik.id) - Seluruh kekuatan di sektor pertanian sudah waktunya berpikir secara sistemik dan terprogram dalam rangka penguatan sektor pangan karena kebutuhan yang sangat mendesak mengingat jumlah penduduk yang semakin meningkat dan kita tidak boleh lagi mengandalkan impor.

Hal itu disampaikan oleh Ketua DPD PDI Perjuangan (PDIP) Sumut Djarot Saiful Hidayat dalam keterangan tertulis, Jumat (26/3/2021).

Menurut Djarot, negara Indonesia harus serius membangun kedaulatan pangan karena sumber daya yang dimiliki masih cukup besar.

"Negeri ini memiliki lahan pertanian yang luas, ditambah lagi dengan iklim tropis yang tentu memberikan keuntungan bagi pengembangan sektor pertanian khususnya tanaman pangan. Apalagi dalam masa kepemimpinan Presiden Jokowi telah dibangun infrastruktur pertanian yang cukup besar, kenapa ini tidak dimanfaatkan untuk progam kedaulatan pangan?,"  kata Anggota Komisi II DPR RI tersebut.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kata Djarot, harus saling sinergi dalam tujuan membangun negara yang berdaulat dalam pangan.

"Sebagai contoh, pemerintah pusat sudah menetapkan beberapa kawasan di Sumut sebagai kawasan food estate atau lumbung pangan. Lalu apakah pemerintah daerah sudah melakukan sesuatu untuk melancarkan program tersebut? Misalnya peningkatan kapasitas petani dan peningkatan kemampuan teknologi pertanian. Sekalipun ada, saya melihat masih minim dan belum maksimal," imbuh Djarot yang juga Ketua DPP PDIP ini.

Djarot melanjutkan, dirinya sering berkeliling daerah dan berinteraksi dengan petani, rata-rata mereka belum melek tekhnologi dan masih menggunakan tekhnologi tradisional.

Hal ini diperparah dengan belum adanya kesadaran dari pejabat publik untuk memberi contoh kepada petani untuk mengembangkan tanaman pangan.

"Kenapa saya bilang begini, karena saya tahu persis banyak pejabat di Sumut yang memiliki tanah luas, akan tetapi alih-alih menanam tanaman pangan malah lahannya dihabiskan untuk menanam tanaman perkebunan seperti sawit atau karet, sehingga petani-petani palawija kehabisan lahan untuk bercocok tanam. Kedepan tidak boleh begitu, harus ada regulasi yang jelas soal penataan lahan mana yang boleh buat perkebunan dan mana yang hanya boleh buat tanaman pangan," terangnya.

Belakangan ini, sambung Djarot, PDIP memang ngotot untuk menolak impor bukan karena tanpa alasan.

"Kalau tidak sekarang kita berpikir untuk berdaulat dalam pangan, mau kapan lagi? Impor itu mudah akan tetapi menyesatkan. Karena impor tidak membawa dampak ekonomi bagi petani hanya memakmurkan para tengkulak. Untuk itu, mari kembali kepada ide pendiri bangsa Bung Karno untuk Berdikari sebagai bukti kita memiliki tanah dan air, itulah nilai kedaulatan sejati," ucap Djarot.

Terakhir Djarot juga menekankan agar masyarakat menkonsumsi makanan pendamping beras, seperti umbi-umbian, jagung, sagu dan sukun yang terbukti sangat menyehatkan serta tumbuh subur di seluruh pelosok tanah air.

"Sebenarnya makan makanan pendamping merupakan budaya kita sejak dulu, itu sebabnya kita mengenal keragaman makanan yang diolah dari bahan selain beras seperti ongol-ongol, lemet, getuk, tiwul dan lain-lain. Akan tetapi masuknya budaya makanan instan membuat kita melupakan makanan pendamping. Untuk itu saya kembali mengajak kita semua untuk kembali kepada makanan yang berakar pada kearifan lokal yang terbukti lebih sehat dari makanan instan," tutup Djarot. (Rls)
×
Berita Terbaru Update