Notification

×

Program MBG di Tebingtinggi Dikeluhkan Orang Tua, Porsi Saat Ramadhan Dinilai Tak Sesuai

Senin, 09 Maret 2026 | 17:51 WIB Last Updated 2026-03-11T02:58:23Z
Makanan MBG di Kota Tebingtinggi.
TEBINGTINGGI (Kliik.id) - 
Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Tebingtinggi selama bulan Ramadhan menuai banyak keluhan dari para orang tua siswa.

Program yang seharusnya membantu pemenuhan gizi anak-anak tersebut dinilai tidak berjalan sesuai dengan nilai anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.

Keluhan muncul karena sistem pembagian MBG selama bulan puasa tidak lagi dilakukan setiap hari seperti biasanya.

Di beberapa sekolah tingkat SD, SMP hingga SMA, paket MBG justru dibagikan dengan sistem dirapel untuk tiga hari sekaligus dan hanya diberikan dua kali dalam satu minggu.

Namun kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya bagi para orang tua siswa. Pasalnya, paket yang diterima anak-anak mereka dinilai tidak sebanding dengan nilai anggaran yang seharusnya diterima jika dihitung selama tiga hari.

Salah seorang orang tua siswa di SD Negeri Komplek Rumah Sakit Umum Kota Tebingtinggi, Dedi Effendy (31), mengatakan paket MBG yang diterima anaknya jauh dari nilai yang seharusnya jika mengacu pada nominal anggaran per hari.

"Kalau kita hitung, anggaran MBG itu sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000 per hari. Kalau sekarang dibagikan untuk tiga hari sekaligus, seharusnya nilai paket yang diterima anak-anak itu sekitar Rp30.000 sampai Rp45.000," ujar Dedi kepada wartawan, Senin (9/3/2026).

Namun, menurut Dedi, kenyataan di lapangan justru berbeda. Paket makanan yang diterima siswa dinilai jauh dari nilai tersebut.

"Banyak orang tua yang mengeluhkan hal ini. Karena kalau dilihat dari isi paket yang diberikan, rasanya tidak sebanding dengan nominal yang seharusnya diterima anak-anak," katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh sejumlah orang tua siswa dari beberapa sekolah lain di Kota Tebingtinggi.

Mereka berharap agar program yang dibiayai oleh negara tersebut benar-benar dijalankan sesuai dengan aturan dan anggaran yang telah ditetapkan.

Para orang tua juga meminta agar Pemerintah Kota Tebingtinggi bersama pihak terkait meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah-sekolah.

Menurut mereka, pengawasan yang ketat sangat penting agar program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak tersebut tidak justru menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Selain itu, para orang tua menegaskan setiap anak seharusnya menerima porsi MBG yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam program tersebut.

Program MBG merupakan salah satu langkah besar negara untuk menuju Indonesia Emas, dengan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang sesuai porsi yang telah ditentukan.

Karena itu, masyarakat berharap tidak ada pihak yang bermain dalam pelaksanaan program tersebut, khususnya di tingkat dapur penyedia MBG.

Jika ditemukan adanya dapur MBG yang nakal atau mengurangi kualitas maupun porsi makanan, masyarakat menilai harus ada sanksi tegas dari pemerintah, mulai dari evaluasi hingga pencabutan kerja sama.

Hal itu dinilai penting agar program yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan gizi generasi muda Indonesia tidak justru merugikan anak-anak yang menjadi penerima manfaat utama.

"Kami berharap Pemko Tebingtinggi dan pihak terkait bisa mengawasi lebih ketat lagi soal porsi dan kualitas MBG ini, supaya benar-benar sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan oleh negara untuk membantu gizi anak-anak di Indonesia," harap para orang tua.

Program MBG sendiri diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kesehatan dan gizi siswa di sekolah.

Namun masyarakat berharap pelaksanaannya dapat berjalan transparan, adil, dan tepat sasaran, sehingga benar-benar memberikan manfaat sesuai dengan anggaran yang telah disediakan pemerintah bagi generasi penerus bangsa. (IH)
×
Berita Terbaru Update