Notification

×

Iklan

Banner Iklan DPRD Tebing Tinggi

Ini Penjelasan dari BMKG Kenapa Bulan Juni Masih Hujan

Senin, 20 Juni 2022 | 08:40 WIB Last Updated 2022-06-20T02:24:46Z
Foto ilustrasi. (detikcom)
JAKARTA (Kliik.id) - 
Sebagian daerah di Indonesia masih mengalami hujan, meski menurut BMKG seharusnya pada bulan Juni sudah masuk musim kemarau. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan di tengah fakta anomali iklim, pencemaran lingkungan, dan perubahan lainnya.

Prakirawan BMKG Marlin Denata menguraikan, pihaknya mendapati penguatan intensitas La Nina menjadi moderat atau sedang dengan nilai -1,05. Penguatan kembali yang berlangsung sejak Maret ini mengakibatkan masih terjadi hujan pada bulan Juni.

"Akibatnya, beberapa daerah di Indonesia yang seharusnya sudah memasuki masa peralihan menuju musim kemarau kini masih mengalami intensitas hujan yang cukup tinggi," jelas Marlin melalui kanal YouTube BMKG.

La Nina adalah fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah yang mengalami pendinginan di bawah kondisi normal. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik bagian tengah dan meningkatkan curah hujan di Indonesia secara umum.

"Perlu juga diketahui bahwa peningkatan hujan harian di beberapa wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer harian dan kondisi atmosfer lokal di suatu wilayah," lanjutnya.

Kapan musim kemarau jika bulan Juni masih hujan?

Berdasarkan BMKG, menurutnya kondisi La Nina akan melemah hingga netral pada periode Juli, Agustus, dan September 2022. Di sisi lain, monsun Asia memperlihatkan kondisi aktif dan diperkirakan masih akan begitu sampai Dasarian I Juni 2022.

Dasarian adalah satuan waktu meteorologi yang bermakna 10 hari. Data dasarian atau decade dalam bahasa Inggris diperoleh tiap satu dan 10 hari.

Decade tidak sama dengan dekade dalam bahasa Indonesia yang berarti 10 tahun. Monsun Asia diperkirakan akan melemah atau tidak aktif saat Dasarian II Juni 2022 dan Dasarian III Juni 2022.

Marlin melanjutkan, kondisi tersebut berarti potensi pembentukan awan di wilayah utara Indonesia pada dasarian I Juni 2022 masih cukup besar.

Pada Juni-Agustus 2022, BMKG memperkirakan munculnya kekuatan angin lapisan sebesar 850 milibar (mb). Hal itu berarti monsun Australia akan aktif dan mendominasi semua wilayah Indonesia. Angin ini akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan di Indonesia.

"Hal ini berarti potensi seluruh pertumbuhan awan-awan hujan akan berkurang, yang berarti juga bahwa musim kemarau akan tiba di sebagian besar wilayah Indonesia," ungkap Marlin.

Dengan kondisi ini Marlin berpendapat, wilayah Indonesia yang mengalami musim kemarau di bulan Juni adalah Aceh bagian utara serta timur, pesisir utara Banten dan Jawa Barat, sebagian Riau, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Bali, kebanyakan NTB serta NTT.

Lalu juga sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat bagian timur, Sulawesi Utara bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian barat, Papua Barat bagian utara, dan Papua bagian selatan.

Wilayah tersebut mencakup 26,6% dari total jumlah zona musim. Wilayah lain yang diperkirakan masuk kemarau di bulan Juni adalah sebagian besar Sumatera, Banten, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah bagian tengah, Jawa Timur bagian timur.

Selain itu masih ada Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan bagian utara, Kalimantan Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian barat dan selatan, Maluku bagian selatan, sebagian Papua barat bagian utara, serta Papua bagian tengah.

Walau begitu, BMKG juga mencatat daerah Aceh masih diwaspadai mengalami hujan lebat disertai petir pada bulan Juni ini. Sementara, wilayah Indonesia yang lain masih mengalami periode musim hujan dan peralihan musim.

Berdasarkan uraian di atas, jaga selalu kondisi badan mengantisipasi datangnya kemarau dan hujan tiba-tiba pada bulan Juni ya detikers. (Detik)
×
Berita Terbaru Update