Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan RSI

AP II: Tidak Ada Penjualan Aset Bandara Kualanamu!

Jumat, 26 November 2021 | 11:02 WIB Last Updated 2021-11-26T04:36:57Z
Foto ilustrasi (detikcom)

JAKARTA (Kliik.id) - 
Baru-baru ini tersiar kabar Bandara Kualanamu akan dijual. PT Angkasa Pura II (Persero) sendiri mengklaim itu merupakan langkah kemitraan strategis dengan GMR Airports Consortium.

Keduanya akan bersama-sama mengelola dan mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu di Deliserdang, Sumatra Utara.

Direktur Transformasi dan Portofolio Strategis AP II Armand Hermawan mengatakan, kemitraan strategis ini bukan transaksi penjualan saham atau penjualan aset Bandara Internasional Kualanamu. GMR Airports Consortium disebut memegang 49% saham Bandara Kualanamu.

"Saat ini pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu dilakukan oleh AP II. Sejalan dengan adanya mitra strategis, pengelolaan selama 25 tahun akan dilakukan oleh AP II dan GMR melalui JVCO yang 51% sahamnya dimiliki AP II. Nantinya pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu akan kembali seluruhnya kepada AP II setelah masa kerjasama berakhir," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/2021).

Pemilihan GMR Airports Consortium disebutnya telah melalui serangkaian proses tender secara profesional dan transparan. Keduanya membentuk Joint Venture Company (JVCo) yakni PT Angkasa Pura Aviasi untuk mengelola dan mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu.

"Tidak ada penjualan aset atau penjualan saham Bandara Internasional Kualanamu. Kepemilikan Bandara Internasional Kualanamu beserta asetnya 100% tetap milik AP II. JVCo hanya akan menyewa aset kepada AP II untuk dikelola selama 25 tahu," ujarnya.

"Setelah periode kerjasama berakhir, JVCo tidak berhak lagi mengelola Bandara Internasional Kualanamu dan semua aset hasil pengembangan akan dikembalikan kepada AP II. Kemitraan dapat dianggap seperti perjanjian sewa menyewa dengan para tenant di terminal Bandara," sambung Armand.

Dia menuturkan, kemitraan strategis ini merupakan inovasi model bisnis yang menarik minat investasi pihak swasta untuk dapat turut berkontribusi dalam mengembangkan infrastruktur di Indonesia dan menyediakan layanan bagi kepentingan umum.

"Tujuan dari kemitraan strategis ini adalah mengakselerasi 3E yaitu Expansion the traffic (memperluas penerbangan), Equity partnership (menambah permodalan) dan Expertise sharing (berbagi teknologi dan keahlian), sehingga daya saing Bandara Internasional Kualanamu dapat lebih cepat ditingkatkan," jelasnya.

Terkait Expansion the traffic, Armand mengungkapkan Bandara Internasional Kualanamu akan dijadikan hub penerbangan internasional khususnya di wilayah barat yang akan mendatangkan banyak penerbangan dari luar negeri ke dalam negeri ataupun sebaliknya.

Adapun GMR Airports Consortium yang sebagian sahamnya juga dimiliki Aéroports de Paris Group (ADP) asal Prancis masuk dalam jaringan operator bandara dengan total jumlah penumpang terbanyak di dunia.

"Pada tahun 2020 jumlah pergerakan penumpang pesawat di Bandara Internasional Kualanamu sekitar 3 juta penumpang per tahun. Melalui kemitraan strategis AP II dan GMR Airports Consortium, JVco menargetkan jumlah pergerakan penumpang menjadi sekitar 54 juta penumpang per tahun di akhir Kerjasama kemitraan," ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan Equity partnership, AP II dan GMR Airports Consortium akan berbagi pendanaan sehingga pengembangan Bandara Internasional Kualanamu dapat di akselerasi dan pengelolaan dapat menerapkan best global practice.

Mitra disebutkan akan menanam investasi sedikitnya Rp15 triliun untuk pengembangan Bandara Internasional Kualanamu. Di samping itu, mitra strategis juga akan memberikan upfront payment kepada AP II, yang dapat digunakan bagi AP II untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. (Detik)
×
Berita Terbaru Update