Notification

×

Iklan

Iklan

Banner Iklan Lekkers

Viral! Anak Petani Curhat Minta Jokowi Setop Impor Jahe

Rabu, 07 April 2021 | 20:18 WIB Last Updated 2021-04-07T14:13:03Z
Foto: detikcom
JAKARTA (Kliik.id) - Impor jahe menjadi sorotan belakangan ini setelah adanya kasus ratusan ton jahe yang diimpor dalam kondisi bercampur tanah. Impor jahe sendiri memang dilarang jika berkontaminan tanah karena berpotensi membawa penyakit.

Namun, ternyata persoalannya tak hanya berpotensi membawa penyakit. Impor jahe ini mengancam nasib petani dalam negeri. Impor jahe ini pun menjadi pukulan keras bagi petani. Kondisi ini bahkan dikeluhkan oleh seorang anak petani jahe di Sumatera Utara bernama Layla Saragih.

Lewat akun Twitternya @layla_saragih mengatakan, jahe-jahe yang dipanen orang tuanya tak laku di pasaran karena harus bersaing dengan jahe impor. Akibatnya, harga jahe pun anjlok menjadi Rp 3.500/Kg.

Ia pun memohon kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menghentikan impor jahe, dan memprioritaskan produksi petani.

"Dan juga minta tolong impor jahe dihentikan dahulu Pak. Kita prioritaskan produk dalam negeri. Kasihan petani, Pak. Harga pertanian anjlok, tapi (harga) pupuk-pupuk tinggi sekali," cuitnya.

Ketika dihubungi detikcom, Layla mengatakan, orang tuanya harus menanggung rugi besar karena panen jahenya tak laku.

"Sudah rugi, karena tenaga memongkar lagi. Jadi modal pinjaman untuk biaya bertani itu kemarin pinjam dari KUR. Niatnya bisa menutup (pinjaman) dengan hasil panen jahe. Tapi ini jahe nggak laku, pinjaman KUR menunggak," kata Layla kepada detikcom, Rabu (7/4/2021).

Ia mengatakan, modal untuk menanam jahe pun besar, bisa mencapai Rp 50-60 juta. Namun, jika panen tak laku maka petani terpaksa berutang.

"Kita bisa bayangkan petani tertunggak Rp 50 juta bagaimana. Kalau bukan dari hasil tani yang diharapkan," terang Layla.

Kini, sebagian besar jahe yang ditanam orang tuanya terpaksa dibiarkan saja di sawah tanpa dipanen karena tak laku dijual.

"Jahenya dibiarkan saja di lahan. Jadi lahannya nggak bisa digunakan untuk menanam tanaman lain. Dan biaya untuk mengerjakan ladang lain pun nggak ada," pungkasnya.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), produksi jahe dalam negeri pun sebenarnya masih surplus. Pada tahun 2019, produksi jahe dalam negeri mencapai 174.380 ton dan angka kebutuhan ialah 142.110 ton, sehingga ada surplus 3.391 ton.

Kemudian, pada tahun 2020 produksi jahe dalam negeri mencapai 183.518 dengan kebutuhan 144.450 ton, sehingga ada surplus 9.585 ton. Bahkan, karena surplus Indonesia pun mengekspor jahe pada tahun 2019 dan 2020, dengan volume yakni 4.445 ton dan 2.188 ton.

"Dan memang ada ekspor yang tercatat tahun 2019 ada sekitar 4.000 ton, dan 2020 ada 2.188 ton. Sehingga secara neraca kebutuhan jahe nasional sebetulnya dari dalam negeri sudah cukup," kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI pada Rabu, (31/3/2021) lalu.

Seorang eksportir jahe yakni Direktur Utama PT Mahan Indo Global Jaiprakash Soni mengatakan, dirinya sudah mengekspor jahe ke Bangladesh selama 12 tahun. Namun, baru tahun 2021 ini dirinya mengimpor jahe karena tingginya permintaan dalam negeri di tengah pandemi COVID-19.

"Kita impor kontainer jahe di Surabaya. Kita biasanya ekspor, tidak pernah impor. Tapi bulan Januari 2021 ini ada permintaan dari lokal cukup banyak, jahe kurang di Indonesia. Saya sudah 12 tahun ekspor jahe dari Indonesia ke Bangladesh. Tapi 2 tahun ini tidak bisa ekspor karena barang di sini kurang," ungkap Jaiprakash dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI pada hari yang sama itu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jahe mengalami lonjakan selama dua tahun terakhir. Pada tahun 2019, impor jahe tercatat menembus 21.782 ton.

Lalu, impor jahe pada tahun 2020 mencapai 19.252 ton. Padahal, pada tahun 2017 impor jahe hanyalah sebesar 53 ton, dan pada tahun 2018 sebesar 3.886 ton. (Detik)
×
Berita Terbaru Update