Notification

×

Iklan

Iklan

Di Simalungun, Djarot Beberkan Pengalaman Membangun Blitar

Sabtu, 28 November 2020 | 20:08 WIB Last Updated 2020-11-28T16:19:38Z
Djarot Saiful Hidayat saat berada di Prapat, Kabupaten Simalungun.
SIMALUNGUN (Kliik.id) - Anggota DPR RI Fraksi PDIP Djarot Saiful Hidayat menemui masyarakat di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut, Jumat (27/11/2020).

Pada acara yang dihadiri oleh Bupati Simalungun JR Saragih dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Simalungun itu, Djarot membeberkan pengalamannya membangun Kota Blitar.

"Blitar itu dahulu kota kecil, di sana hanya ada makam Bung Karno," kata Djarot dalam rilis yang diterima, Sabtu (28/11/2020).

Ketua DPP PDIP ini menjelaskan makam Bung Karno menarik banyak masyarakat untuk berziarah, sehingga bisa menjadi sentra pariwisata.

"Untuk memulainya kami melakukan pembukaan makam Bung Karno. Kemudian kita melakukan pendekatan ke masyarakat," imbuhnya.

Djarot menjelaskan, dirinya mengumpulkan para tukang becak di seantero Blitar. Para becak ini, kata Djarot, akan dibuat untuk transportasi para wisatawan.

"Kita membuat pengaturan para tukang becak. Becaknya juga harus bagus agar pengunjung tertarik menaikinya," jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Djarot, pihaknya juga mengatur tarif becak menjadi satu harga.

"Ya harus satu harga agar para pengunjung jangan ada yang merasa dibohongi. Kita juga mengatur giliran mereka (abang becak) menarik penumpang. Agar semuanya kebagian," ujar pria yang menjabat Wali Kota Blitar periode 2000-2010 itu.

Djarot juga menuturkan, pihaknya memberikan pengertian kepada para pedagang souvenir dan oleh-oleh. Menurutnya, proses tersebut dilakukan agar para pedagang itu tak memberikan harga sesukanya.

"Alhamdulillah rencana itu berhasil. Saya diajak membuat parade becak bersama para tukang becak. Saya diminta membawa becak dan istri saya menjadi penumpangnya," tambahnya.

Djarot mengungkapkan, kawasan Parapat juga memiliki lokasi Pesanggrahan Bung Karno yang terkenal. Menurutnya, pihak pengelola dan masyarakat setempat harus menghadirkan narasi tentang perjuangan Bung Karno saat menghadapi Belanda kala itu.

"Pada tanggal 4 Januari 1949, Bung Karno diasingkan bersama pemimpin lainnya. Di Parapat ini, Bung Karno berkorespondensi, bertukar pesan dengan para gerilyawan yang ingin membebaskannya," ucapnya. 

Kala itu, lanjut Djarot, Bung Karno menitipkan pesan dalam secarik kertas di bawah sayap ayam maupun batang sayuran. Surat itu nantinya dibawa oleh sang tukang masak, seorang Indonesia kepada para gerilyawan.

"Mereka bertukar pesan di pasar belanja untuk masak," jelasnya.

Djarot berharap, perjuangan Bung Karno kala itu menjadi daya tarik sendiri, di samping keindahan Danau Toba yang mendunia.

"Semoga ke depan Simalungun semakin maju. Sehingga kawasan Toba mampu menjadi ikon pariwisata kita yang memberikan nilai besar pada pendapatan masyarakat kita," pungkasnya. (Rls)
×
Berita Terbaru Update